Peta Himalaya I

:T.W.

Aku ingat hari-hari yang panjang itu, membekas tak berarah seolah-olah kita hanya memegang peta tua yang tak kalah rapuh dalam kenangan. Waktu tak berarti di tempat ini. Ingatan melompat-lompat melewati sekian masa. Hanya ada keheningan di puncak-puncak gunung. Di puncak rasa dan diri yang hanya kita kenali masing-masing.

Kedirian yang berkali-kali dihancurkan. Berkali-kali dibangun. Tak kenal lelah. Lalu butiran pasir yang kerap mengecap mata. Perih tak tanggung-tanggung. Membuatmu menangisi diri sekian ribu kali lagi. Seolah menggenapi, cry me a river, tangisan yang menjadi sungai-sungai menuju lautan.

Aku tak tahu apakah dari puncak ini aku akan mengalir bersama Brahmaputra ataupun menuju Gangga. Semuanya menuju Hindia. Perahu yang tak tertambat hanya menawarkan kita masing-masing kayuh. Di Pokhara kita belajar mengayuh perahu kayu dan membiarkan diri kita tenggelam di danaunya, mengamati Puncak Himalaya yang buram dalam musim penghujan.

Mungkin luka-luka di sekujur tubuh, hati dan jiwa telah terbasuh dalam perjalanan ini. Ataukah dia terbuka kembali dan kita saling menjahitnya lagi satu dengan yang lain, memakai benang yang baru: kekinian. Kita, para penyembuh yang terluka. Di sanalah letak bintang lahir kita bersinggungan.

Di atas puncak-puncak gunung, aku berbicara pada bumi. Akan cara-cara yang kita tempuh ketika kita turun. Antara mengalir dan terjun. Antara mengetahui kapan memecah dan kapan menyatu. Mengetahui dengan pasti bahwa kita akan kembali pada segalanya.

An attempt on a passage of Rilke

Look, we don’t love like flowers

Lihatlah, kita tidak mencintai seperti bunga-bunga

with only one season behind us; when we love,

dengan hanya satu musim di belakang kita; ketika kita mencintai,

a sap older than memory rises in our arms. O girl,

getah dari memori yang lebih tua muncul dari lengan kita. Oh gadis,

it’s like this: inside us we haven’t loved just some one

seperti inilah: di dalam diri kita, kita tidak hanya mencintai satu saja

in the future, but a fermenting tribe; not just one

di masa depan, tetapi sebuah fermentasi akan suku; tidak hanya satu

child, but fathers, cradled inside us like ruins

anak, tapi para bapak, yang berayun di dalam diri kita seperti puing-puing

of mountains, the dry riverbed

akan gunung-gunung, dasar sungai-sungai yang kering

of former mothers, yes, and all that

akan para ibu sebelumnya, ya, dan semua itu

soundless landscape under its clouded

lanskap yang tak bersuara di bawah mendung

or clear destiny – girl, all this came before you.

atau takdir yang jelas – gadis, ini semua muncul sebelum dirimu.

(Trans. A. Poulin Jr.: Rainer Maria Rilke: Duino Elegies and the Sonnets to Orpheus).

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Astrid Reza

Silat

: T.W.

Malam ini kita tutup dengan sekian gerakan silat. Dengan pelukan yang tak terlalu erat namun hangat. Kau menatapku lekat. Aku menatapmu lekat. Mungkin inilah kesementaraan yang akan selalu kita kenang. Kau mengusap kepalaku dan aku menaruh kepalaku di lingkar bidang dadamu. Seperti biasanya.

Aku akan menemukanmu kembali ketika segalanya membaik. Ketika segalanya menjadi momen yang tepat. Tak ada yang salah dengan semua hal yang telah lewat. Degup jantung kita hanya kita yang benar-benar tahu letaknya. Rasa yang mendalam itu hanya kita yang mengetahui ketika kita sama-sama menghela nafas panjang.

Kau menemaniku sejauh itu dan sejauh ini. Dan untuk saat ini segalanya cukup. Mungkin aku akan tersedan sedikit namun tak lagi tertahan segala yang sudah seharusnya tumpah ruah. Segala rasa yang tak lagi menjadi sebuah kelemahan namun perlahan menjadi suatu kebanggaan untuk tetap tumbuh dan hidup.

Aku tahu dan aku percaya kita akan sama-sama menguat setelah semua ini, setelah sejauh dan sedalam ini. Kita masih berupa aliran sungai yang tak lagi kering, namun mengalir sepenuhnya ke satu tujuan. Segala doaku kuhembuskan kepadamu. Segala yang menjagaku akan menjagamu jua. Dengan segala kekuatan roh kehidupan yang ada padaku, aku memberkatimu, cintaku.

Menuju Selatan

Aku rindu bau laut itu. Sendirian. Samudera lepas yang mengosong pada entah. Aliran pasir yang mengalir di antara sela jemari kakiku. Bau asin yang menguat di udara. Rambut yang terbawa angin, lembab dan melengket ketika pulang. Dan semua perjalanan menuju laut yang selalu-selalu menjadi ritual kesendirianku.

Titik Rapuh

Mungkin di sinilah aku membiarkan diriku merapuh. Mungkin di titik-titik inilah aku benar-benar berhadapan dengan dirimu ataupun dengan diriku sendiri. Seolah-olah aku menatapmu pagi ini. Terbangun hanya untuk menatapmu. Di segala perjalanan sekian bulan kemarin aku menatapmu, entah dekat, entah dari kejauhan. Entah di atas bantal tidur yang sama, ataupun dari sebuah bukit di Himalaya. Aku sedang mencoba membaca di mana sebenarnya diriku telah lekat. Dalam ruang mana sebenarnya kita telah mendekat dan seberapa jauh sebenarnya artian jarak.

Di tepian sebuah danau yang sunyi, aku tak lagi memutar memori. Dirimu dan diriku berada di sana sekarang, di sebuah kesunyian yang tak lagi mencekam. Tak ada angin. Hanya kicau burung seperti pagi ini. Dalam segala yang terlahir baru, sebagaimana adanya aku menemukan diriku dan juga dirimu, benar-benar sebagaimana adanya.

Jupiter dan Mars

Bagai sekian planet yang berputar, kita sedang berada di sebuah jalur yang tak jauh berbeda. Bahkan mengarah ke arah yang sama. Kau mengumpamakan kita bagai sebuah anak sungai yang tengah mengalir, menuju pertemuan dan perpisahan hingga kemudian sama-sama bertemu di lautan. Aku mencoba mengenali nada suaramu, mencoba mengenali lagi apa yang sebenarnya sedang kau rasakan hanya dari suaramu. Aku ingin kita sama-sama mengendap kini. Mengendapkan segalanya hingga terlahir baru dan bertemu di ruang yang tak lagi sesak akan air mata.

Aku masih mengenali jejakmu di udara seperti biasanya. Bahkan sebelum bertemu lagi denganmu. Tak ada yang berubah sebenarnya. Dalam mimpiku yang sementara, lagi-lagi dirimu yang terbaca. Sesuatu yang hidup bersama-sama dalam nafasku.

Tiga Purnama Berlalu

Masih kuingat purnama di atas atap rumah. Benderang yang menyilaukan terkadang, layaknya sinar mentari yang menerpa kulitmu. Dan kau mengetahui detik-detik ketika terpaan kekuningan di kulitmu lekat kutatap. Dan kau akan menepuk pipiku. Seakan berkata, janganlah kau lekat pada yang terlihat.

Aku tak pernah mengerti sekian sosok apa yang berlapis pada dirimu. Aku mengingat momen kau buang kacamata merahku di hari ketiga kita bertemu di rumah di atas bukit. Segalanya buram dan kepalaku sakit. Sosokmu memecah menjadi bulir-bulir selayak hujan yang jatuh tepat di kedua bola mataku. Bersama rasa sakit semuanya mengalir. Kau berkata, “Lewatilah semua rasa sakit itu,” dan tanpa kau melanjutkan kata-kata, selalu kutemukan tangan dan lenganmu tak jauh dari genggaman. Dan tak pernah kau pergi.

Apa sebenarnya rasa kehilangan yang begitu lama berasal dan juga pada akhirnya berakhir? Setelah tiga purnama, aku berada dalam penghujung. Di segala yang lahir baru, dalam kulitku ini diterpa matahari yang sama di sampingmu. Juga angin, lalu udara yang sama. Semua yang kita hirup bersama. Kini.